Senin, 16 Juli 2018

Pengalaman Nonton Drakor Keal Me, Heal Me

Seriously, I am NOT a Korean Drama's fan. But, gara-gara sering baca timeline LINE TODAY yang menyediakan streaming berbagai macam drakor, gue jadi penasaran. Awalnya karena nggak ada kerjaan alias pengangguran dan kuota lagi melimpah. Perkenalan dengan drakor ini awalnya dari streaming FULL HOUSE, kebayangkan jadulnya. Gak peduli udah berapa sering gue nonton FULL HOUSE dan nonton di youtube, tetep aja ini drama paling the best selama hidup gue. Drama kedua yang membekas di ingatan gue dan juga favorite adalah MARS (drama Taiwan). Selain dua serial drama tersebut gue belum bener-bener nemu drama yang bisa bikin hati jatuh cinta. Lalu, ada drama yang direkomendasiin oleh LINE, beberapa memang hits seperti 'Goblin', terus................ (apalagi yah.. hmm banyak pokonya), tapi gue gak berani nonton yang udah terlalu hits, takut ketagihan dan nggak bisa move on, tambahan lagi ini cerita keliatannya absurd, ada unsur bukan manusianya, entah siluman atau apa deh gue nggak ngerti. Akhirnya buat buang kebosanan yang mengungkung hati, iseng gue nonton drakor yang judulnya 'She Was Pretty', awalnya di episode pertama gue tertarik dan menyelesaikan 1 episode dalam 2 hari, nontonnya cuma 10 menit terus lanjut makan, mandi, dan menyelamatkan dunia, baru lanjut nonton lagi. Setelah episode pertama yang cukup menarik, lanjut ke episode kedua, disini udah mulai males karena ternyata ceritanya si cowok gak mengenal temennya yang udah jadi itik buruk rupa. Mulai dari sini, gue skip untuk nanti dilanjut kapan-kapan.

Next, gue iseng juga ngikutin drakor yang judulnya KILL ME, HEAL ME. Tak disangka tak dinyana, langsung jatuh cinta klepek-klepek sama jalan ceritanya. Drama yang beda. Ceritanya memang lebih banyak romantis, nangis-nangis tapi gak lebay, oke lebay tapi masih dialur normal. Pengalaman gue nonton KMHM: taste ceritanya ringan, komedinya dapet banget, romantis sweet ala-ala tarik ulur manjha dan juga gak dipungkiri pemeran utamanya TOP BANGET ! Cerita tentang penderita D.I.D juga kerasa fresh, gak membosankan dan ini yang bikin gue betah nonton. Gue penasaran sama misteri dibalik pecahnya kepribadian menjadi 6 karakter. Seru abis deh, gak nyesel ngabisin kuota dan begadang demi namatin drakor KMHM.

Film KMHM nyaris tanpa gangguan. Dari cerita, semua pemerannya keren abis (salutttt dan jatuh hati sangat kepada Ji Sung yang sudah membuat 4 hari ku berwarna untuk namatin seriesnya KMHM dan demen banget sama bibir kamuu yang kissable pinkish merona gicuuuuu... gemeessshh), juga sama OST nya yang bikin suasana haru, sendu, romantis dan deg-degan parah. Bravo tingkat tinggi. Gimana gak bravo, udah 4x rewind ini drakor saking jatuh cinta dan belum move on ke movie lain. 

Untuk semua castnya KMHM, terima kasih sudah berperan sangat baik sekali dan maaf gak bisa hapal nama-namanya karena diriku ini sungguh sangat awam mengenai artis-artis korea, dengan ini mungkin jadi awal bakal nyari-nyari referensi drakor keren lainnya. Dan buat line today makasih banyak ya udah ngasih virus ke semua orang untuk nonton KMHM hahaha.

Last, buat kalian yang nyari review KMHM bisa baca disini atau disini karena gue hanya berbagi pengalaman setelah beres nonton KMHM. Semoga bisa jadi referensi buat kalian yang masih awam dan picky banget lantaran takut ketagihan nonton drama, apalagi newbie kaya gue yang baru melek dan kenal hal-hal berbau korea. 

Ketemu lagi di post selanjutnya.

Bye oppa :D

Btw, this is keprobadian terfavorite :D


Jumat, 06 Juli 2018

Perjalanan Mudik 2018 Tujuan Bima - part 1

Terpikir untuk mengabadikan kisah yang baru terulang dua puluh enam tahun kemudian. Sebuah cerita yang rasanya pantas untuk kubagikan, cerita yang mungkin akan kulakukan lagi di masa mendatang.

Cerita berikut diawali dari lebaran tahun ini. Lebaran yang berkesan. Awalnya ayah mengajak lebaran di kampung halamannya, Bima. Bagi siapa yang tidak tau dimana daerah Bima, wilayah Bima masuk ke provinsi Nusa Tenggara Barat, daerahnya ada di pulau Sumbawa. Sukunya bernama Mbojo. Oke lanjut ke cerita. Setelah perdebatan dan drama di dalam keluarga, akhirnya hanya aku, ayah dan adik bungsuku yang ikut ayah mudik. 

Dengan mobil dinas yang plat nomornya bergincu - yang tentunya surat ijin dari dinas / kantor ayah untuk membawa mobil tersebut menyebrang dari pulau Lombok ke tanah Bima sudah dikantongi - kami menyebrangi dan memulai perjalanan mudik. Sedikit aku informasikan, mengapa di awal aku menyebutkan dua puluh enam tahun adalah karena aku terakhir kali berkunjung ke Bima saat usiaku dua tahun. Kesempatan untuk mengunjungi kampung leluhur ayahku ternyata muncul di saat umurku yang ke dua puluh delapan tahun. Semua terasa baru, karena aku tak bisa mengingat apapun sejak dua puluh enam tahun kebelakang. Kecuali hal-hal kecil yang diwariskan foto masa kecilku.

Perjalanan kami mulai di jam 5 pagi selepas sahur dan solat subuh, ayah memacu mobil dari rumah kami yang terletak di Lombok Utara. Di perjalanan aku dan DD (nama adikku) baru mengetahui akan ada penumpang lain yang akan mudik dengan kami. Lalu kami menjemput salah satu kerabat yang menunggu di perpotongan jalan Udayana dan jalan Langko. Nama kerabat yang baru kukenal adalah om Yusuf, dia membawa serta anak perempuannya yang bernama Najwa. Setelah membawa serta kerabat dalam mobil yang mulai terasa sempit, ayah melanjutkan perjalanan kami menuju pelabuhan Kayangan di Lombok Timur. 

Dengan kecepatan diatas rata-rata dan keadaan jalan yang lengang, kami berhasil sampai di pelabuhan Kayangan jam delapan kurang. Pagi itu jumlah kendaraan yang mengantre untuk menyebrang sedikit, kami langsung naik ke kapal ferry setelah membayar karcis sebesar Rp. 475.000.- (kalau tidak salah ingat). 

Najwa (kiri), Aku (kanan) sedang menikmati teriknya matahari di atas kapal ferry
Penyebrangan kami tempuh selama kurang lebih dua jam. Sejujurnya dari kecil aku sangat menikmati berada di kapal laut. Pada umumnya orang akan merasa mual, pusing dan mabuk laut, tapi aku tidak pernah merasakan itu semua. Semakin kencang kapal itu berguncang, semakin asyik. Syarat agar tak mabuk laut diantaranya, kondisi badan fit dan tidak dalam keadaan lapar. Dua jam kuhabiskan sembari bercakap-cakap dengan Najwa dan om Yusuf. Percakapan yang memposisikan aku dan adikku sebagai narasumber dan om Yusuf adalah pewawancara, dengan topik bahasan yang membosankan dan memerahkan telinga. Yang unik dalam perjalan ini, Najwa tidak mabuk. Dia mengoceh dan bersikap tidak seperti anak umur 9 tahun. Kira-kira seperti ini.

Najwa (N) : Kakak punya Tik Tok ? (menyibakkan poninya yang tertiup angin)
Aku (A) dan DD (D) : ha?? Loh kok kamu tau tiktok ? (terheran-heran)
N : Punya dong. Sering saya buat video-video. (matanya mengerlip beberapa kali)
A : Emang Najwa punya HP ? 
N : Punya mamak.
A : Jangan main Tik tok lah, masih kecil. (sok menasehati)
N : Loh biarin aja, kan lucu, seru. Saya biasa sama kakak saya yang cewek kalo buat video. (kemudian dia menyanyikan lagu syantik yang lagi ngetrend lengkap dengan koreonya).

Aku dan DD menggelengkan kepala. Hening.

N : Kalian punya skusi ? (matanya mendelik)
D : Apa tu ?
N : Itu lho mainan! (dia gemas karena tidak ada yang mengerti)
D : Oooooooo squishy (lalu tertawa)
N : Iya, punyak gak ? (matanya membesar)
A : Ada. Banyak.
N : (lalu dia menjerit dan sedikit memohon). Masaaaa?!!! Mintaaaa buat saya, ih saya kepengen sekali punya squishy. (dia memegang lenganku dan menggoyang-goyangkannya)
A : Di Bandung, gak dibawa.
N : Dimana itu Bandung? Deket gak? (masih memegang lenganku)
D : Deket Najwa, sebelah Jakarta. 
N : Lah jauuuuuh sihhh, iih emang saya nggak tau Jakarta. (lalu dia ngambek).

Aku dan DD saling pandang dan tertawa. Tak peduli. Hening lagi.
N : Kalian ni tau Ria ricis ? (selidiknya)
D : Taulah
N : (Sekonyong-konyong...) Dia nge-sok ya! Sombong!!

Lah, ni bocah ngapa yak, batinku bertanya.

A : Emang kenapa, kok gitu? Gak boleh gitu. 
N : Iya dia buangin skusi ke laut.
A : (tidak tau sama sekali apa yang dibicarakan). Udah anak kecil jangan nonton itu, nonton kartun aja. 

DD dibangku ujung cekikikan sendirian.
Hening kembali menyapa. Najwa bete dan memilih tidur dipelukan ayahnya sampai ferry berlabuh pulau Sumbawa.


…………….. (part1)

Dua Satu Hari

Mataram, 6 Juli 2018. (6.00 AM) Waktu Indonesia Tengah.

Sebungkus nasi kuning dengan sambal khas Lombok yang terasa pedas tapi nikmat tiada dua membuka pagi yang masih gelap gulita akibat mendung pagi tadi. Setelah menghabiskan suapan terakhir dan minum air mineral merk lokal, kegiatan duduk-duduk diruang tamu menjadi ritual selanjutnya. Toples-toples kudapan yang terdiri dari nastar, permen mint, kacang telur, dan aneka kue khas lebaran lainnya yang tersisa menjadi hidangan penutup. Pagi yang nyaman untuk memulai malas-malasan. 

Hari ke dua puluh satu sejak aku resmi berstatus penggangguran akibat keputusan pengunduran diri yang sudah lama aku inginkan. Pulang dan kembali ke rumah orangtua yang awalnya aku bayangkan akan baik-baik saja ternyata terasa kian hari kian berat. Terpikir untuk mengambil kamar kontrakan sendiri atau membeli rumah dan tinggal terpisah dengan keluarga mulai menggerayang didalam pikiran, tapi akal sehat menghentikannya dengan alasan keadaan finansial yang tak lagi memungkinkan untuk berdiri sendiri. Kesimpulannya aku lemah tanpa uang.

Setelah kemungkinan untuk hidup terpisah di dalam kota yang sama luntur, ide muncul lagi untuk kembali ke perantauan. Ingin meneguk kembali rasanya 'kebebasan' yang dulu terasa sesak dan sendiri, tapi kepedihan dan kesendirian itu yang aku rindukan sekarang. Yang aku rindukan adalah kamarku, semua fasilitas yang aku hasilkan sendiri, dunia kecilku yang sepi dan padat. Semuanya seperti menghukumku, mengolok-olok keputusanku. 

Dua puluh hari atau tepatnya kemarin, saat aku masih merasa rumah adalah hal yang terbaik. Dihari ke dua puluh satu hari aku menyadari 'kekosongan' yang menggelembung semakin besar yang berbanding lurus dengan kebosanan yang mulai melanda. Sekarang aku sadari batas paling lama aku tidak bekerja adalah dua puluh hari. Butuh du apuluh hari libur dan beristirahat untuk mengumpulkan kembali semangat kerja dan mengusir semua kepenatan akibat terus-menerus beraktivitas di kantor. Hasil experimen ini membuat aku paham alasan orang-orang Barat menggunakan hari cutinya sekaligus untuk berlibur dalam jangka waktu yang lama. Terurainya rasa jengah dan penat adalah dua puluh hari, khususnya untukku.

Dan sekarang satu diri dalam diriku bertanya apakah aku menyesal telah memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku, aku tegas menjawab tidak. Pengunduran diri bukan semata-mata bisa dibayarkan oleh gaji semata. Untuk perkara gaji, aku serahkan kepada yang maha kaya, sudah kuserahkan apapun yang terjadi pada diriku pada-Nya. Aku hanya sedang rindu kebebasan dan waktu sendiriku, rindu udara dingin yang menggigit saat aku membuka jendela kost dan driver ojek online yang selalu berganti menyapaku disetiap pagi. Aku rindu canda dan suasana ruangan besar dilantai dua gedung kantorku, juga suara mesin absen ketika menunjuk jam 8 pagi. Aku rindu teman-temanku dengan segala gosip dan kebiasaan mereka memberiku lelucon garing dipagi hari. Aku rindu mall-mall yang tak pernah tidur dan jalanan padat merayap yang dulu aku benci. Aku rindu pada kompor, penggorengan dan bahan-bahan masakanku. Memasak adalah hobby baruku ketika sudah bosan menulis. Dengan bermodal resep online dan kemauan keras, lambat laun aku suka memasak. Aku rindu makan masakanku sendiri.

Butuh sepuluh tahun untuk mencintai kesendirian dan kemerdekaanku dan dua puluh satu hari merupakan waktu yang tak pantas untuk menghapus kenangan yang menghabiskan sebagian besar cerita hidupku. Aku hanya rindu perantauan. Mungkin rasa pedihnya akan mengiris-ngiris dihari-hari kedepan, terutama saat hari-hariku bertambah sulit. Tak ada yang bisa dipersiapkan untuk mengatasi hal-hal seperti ini, sama halnya tidak ada yang siap akan perpisahan, patah hati dan ditinggalkan. Sekuat apapun akan terasa sakit. Tapi kesakitan itu akan memunculkan kekuatan lain didalam hati agar ikhlas dan tegar.

Hari ke dua puluh satu yang kosong. Aku penasaran apa yang akan terjadi di hari ke dua puluh dua. Rencana dan impian-impian yang aku simpan, perlahan-lahan bermunculan, menagih janji untuk diwujudkan. Sabar ya, aku sedang menyusun kalian, satu per satu.



Selasa, 29 Mei 2018

Siang yang cerah dengan sepotong filosofi dibawah alam sadar

apa sih yang dilakukan ketika dua orang saling mencintai ?
akan hidup bahagia selamanya ?
apa itu mungkin ?


apa sih yang dilakukan orang yang sedang patah hati ?
akan hidup dalam kesedihan selamanya ?
apa itu benar ?


apa sih yang dilakukan orang yang sedang bimbang ?
akan hidup dalam kegalauan selamanya ?
apa selalu begitu ?


apa sih yang akan dilakukan orang yang sudah tidak ada harapan ?
akan hidup dalam keputusasaan selamanya?
apa sekelam itu ?


apa sih yang akan dilakukan orang yang hidup dalam kesendirian ?
akan hidup dalam kehampaan selamanya ?
apa harus begitu ?


rasa bahagia itu apa sih? hanya bisa dirasakan orang yang mengalaminya, begitu pula rasa emosi yang lainnya.
orang lain hanya bisa bersimpati dan berempati.


masalah akan selalu ada, bagi yang hidup berdampingan maupun hidup sendiri
perbedaannya adalah cara mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri


Minggu, 20 Mei 2018

Novel atau Lagu

Banyak novel yang menuliskan kisah cinta. Kisah cinta yang menceritakan perjuangan seseorang yang begitu mencintai pasangannya. Kisah sedih dan menyakitkan karena mencintai orang yang tidak mencintainya.

Sedangkan banyak lagu cinta dan patah hati yang menggambarkan begitu  tidak pantasnya ia dicintai. Lagu yang berharap agar pasangannya bahagia tanpanya. 

Anda di sisi yang mana ?

Pesan dikirim

kali ini, saya akan mencoba mencintai diri saya sendiri sebelum saya jatuh hati kepada orang lain.

kali ini, saya akan belajar sedikit demi sedikit untuk menilai orang bukan menghakiminya.

kali ini, saya terus berpikir untuk melakukan hal-hal yang dulu pernah menjadi mimpi dan perlahan saya lupakan.

kali ini, hanya kali ini saja, saya akan berpikir untuk memafkan diri saya yang kembali menangisi sesuatu yang tak akan pernah lagi saya tangisi di masa yang akan datang. 

Apa itu ?

Menyakiti diri sendiri. 

Terus menerus membayangkan semuanya akan menerima kekurangan diri sendiri adalah sangat egois.

Bagaimana mungkin orang lain mencintai saya apa adanya jika saya sendiri tidak mencintai diri saya yang apa adanya ?

Hati kecil ini saja tidak sanggup mencintai semua kekurangan, bagaimana hati yang lain ?

Egois yang ada sekarang akan menyakiti hati orang lain.

Fokuslah untuk bahagia. 

Biarkan diri ini berproses dan berkembang.


- E

Kamis, 10 Mei 2018

Malam yang dingin - Episode 2

Malam, 23.21 waktu Indonesia Galau.

Di kosnya yang minimalis dan dipenuhi poster pemain bola, Gawa merenung. Sesekali menghembuskan nafas panjang sambil mulutnya mengunyah Beng-Beng dan minum Teh Pucuk. Suara rintik hujan menemani malam itu dengan setia. Kejadian tadi sore diputar terus oleh Gawa dalam ingatannya. 

Setelah bertemu Karin, perasaannya kembali tak menentu. Tembok baja yang dia bangun begitu kokoh di dalam hatinya hancur. Meleleh, seolah Karin bisa menembus dengan satu sapaan saja. Dua bulan Gawa mencoba menghindari Karin dengan segala alasan dan mencoba hidup tenang. Sekarang pertahanannya ambruk. 

"harus gimana gue nih Kowalski ? " dengan lirih dia menoleh ke hamster peliharaannya yang sedang berlarian kesana kemari di box kacanya. Setelah 1 box Beng-beng habis dan berbotol-botol teh pucuk, dia mengambil HP dan mencoba mencari satu nama di kontak  Whatsup-nya, Dodot. Dengan enggan dia mengetik pesan,

- Dot apa kabar bro? Gue nih Gawa. Tadi sore Karin nemuin gue. Lu ada waktu kapan bro, udah lama kita nggak ngopi bareng. - 

Pesan dihapus. Gawa kehilangan percaya diri. 

" Ah sial. Karin, kalo gak elo, males banget gue WA si Dodot! " lalu tangannya melemparkan HP ke kasur dan mengambil minuman dingin di dalam plastik Alfamart.

Lalu dia mengambil lagi HP nya, dan dengan cepat menuliskan pesan, 

- Dot, lu apain lagi si Karin. Jangan nyakitin dia lagi dong, inget kan janji lu ke gue ???? Sialan lo ! Lo udah ngingkarin janji lo. Duel kita ? -

Lalu pesan itu juga dihapus. 

"Shit, gue juga ingkar janji nemuin si Karin. Eh tapi dia yang nemuin gue kali, bukan gue niat ketemu dia."

Kali ini, Gawa mengumpulkan semua kesiapannya dan mulai mengetik, 

- Hi bro, apa kabar ? -

Gawa mengirim pesan tersebut.
Dalam hati dia berharap Dodot tidak pernah menerima pesannya.

¶¶¶

Malam ini, seperti malam-malam biasanya. Dira mengecek akun Instagramnya. Post Foto tadi sore membuatnya tidak bisa tidur. Bagaimana tidak, mantan yang sudah 9 tahun ia pacari dan putus dengan alasan yang tidak pernah ia pahami akan menikah. MENIKAH !!!!!!

Tidak bisa ia bayangkan, seorang Malik yang yang ia kenal sedari SMA dan baru berpisah beberapa bulan lalu sudah menemukan pengganti dirinya. PEDIH dan SEDIH adalah kata yang paling mewakilinya saat ini. Tidak seorang pun paham akan hancurnya hati dan rasa percaya dirinya. Linangan air mata yang tidak kunjung mengering menemaninya. Dira tak ingin tidur karena tahu akan dijemput oleh mimpi buruk seperti malam-malam sebelumnya. Tapi hatinya terlalu lelah untuk bertahan. 

Dengan berani dan didorong rasa penasaran yang kuat, dia melihat lagi post foto undangan yang dibagikan oleh adik Malik. Pernikahannya akan digelar seminggu lagi. Seperti seorang FBI, Dira mencari informasi siapa orang-orang yang dapat membuat ia lebih mengenali perempuan perebut kebahagiannya. Menit demi menit berubah menjadi jam. Waktu berlalu dengan informasi yang tidak sebanding. Sampai pada satu komentar. Dira mengenali wanita di foto profile itu. Rasanya tidak asing, tapi dia tidak ingat betul dimana dia pernah bertemu. Sialnya akun wanita itu terkunci. 

Dengan hati-hati ia mencoba mengingat, nama akun tersebut adalah Karka.Putri.

"Karka...Hmmm.. Who's Karka" Dia mencoba mengingat dimana dia pernah melihat wanita ini.

Dira lalu membaca komentar Karka, mencoba mengeja kata-katanya sembari membayangkan sesosok wanita ini di dalam otaknya yang sedang malas bekerja karena terlalu lelah bekerja dan menangis.

Komentar yang tertulis, 

Hei guys, Congrats ya! Akhirnya selama dua tahun ini perjuangan tidak sia-sia. Selamat berbahagia ya. Love you ๐Ÿ’‹๐Ÿ’•

" What?? Dua tahun ??? Gila gue diselingkuhin!!! "


Dengan berapi-api dan emosi yang berlebih Dira merasa terjun lebih dalam ke jurang kesedihan dan kehancuran. Tangisannya semakin pecah karena tidak berdaya melawan pengkhianatan yang baru diketahuinya.

Bantalnya kini sudah basah. Matanya sudah lelah.

Tapi dalam otaknya terus teringat nama Karka Putri.

¶¶¶

Dalam ruangan karaoke yang penuh dengan kolega dan teman kerja, Dodot duduk sendiri. Robby dan Fariz sudah mengajaknya untuk bernyanyi dan meminum beer. Dodot menolak. Akhirnya dia berpamitan dan memberikan uang untuk membayar room dan beer sebagai pengganti kehadirannya.

"Kenapa lo bro ? " Tanya Robby.

"Iya nih, ada masalah ya ?" lanjut Fariz.

"Nggak. Gue cuma nggak enak badan. Kalian lanjut aja. Sorry nih. Next time aja ya."

Dengan terburu-buru Dodot meninggalkan ruangan itu.

Robby dan Fariz saling berpandangan dan mengangkat bahu mereka. 

"Eh ini HP si Dodot ketinggalan bro." Kata Fariz pada saat akan duduk di sofa.

"Besok aja deh dikantor, kalau dia inget entar dia balik lagi kok." Jawab Robby.


Di tempat parkir, Dodot menyalakan rokoknya dan duduk sendiri diatas motor besarnya. Dia sedang merasakan sesuatu yang mengganjal hatinya. 

"Haruskah gue resign demi lo Rin ?"

Lalu asap yang mengepul itu hilang perlahan sampai habis dan mengantarkan Dodot pulang sambil memacu kuda besinya sendirian.

Hari itu Dodot merasakan kesepian yang membuatnya sesak.

¶¶¶


"Karin, kok ngelamun terus sih nak?" Sapaan bunda membangunkannya dari lamunan.

"Lagi mikirin apa ?" tanya bunda lagi.

"Oh nggak bun. Cuma kerjaan." Jawab Karin.

"Ah kalo kerjaan jangan dipikirin, tapi dikerjain Rin.". Lalu bunda melanjutkan, "Eh, kok Gawa nggak pernah datang lagi ya? Bunda kangen deh. Gawa itu lucu, terus suka habisin makanan bunda, jadi ngga ada sisa hehehe."

Karin tersenyum, lalu menjawab " Gawa pindah kosan bun, jauh. Jadi kalau mau kesini harus cari waktu yang pas, kasian kan macet."

"Emang pindah kemana ? Kenapa kok pindah ?"

"Gatau bun."

"Hmm.. yah Gawa, padahal seru ada dia, rame."

"Kenapa sih bun, kan ada Dodot juga sering kesini." Protes Karin.

"Ups. Sorry deh. Bunda juga suka Dodot. Cuma kalo ada Gawa kayanya lebih ceria aja. Nggak ada maksud apa apa. Udah deh kamu tidur aja. "

"Bunda nggak tidur ?"

"Nanti. Bunda jait dulu sedikit lagi. Pesenan buat diambil besok."

"Oke."

Dengan malas Karin meninggalkan bunda.

Sebelum Karin masuk ke kamar, dia mengintip bunda yang masih sibuk menjahit ditengah malam ini. Lalu dia menuju ruang tengah lagi, dan bertanya, "Bun, ada yang perlu dibantu ? Biar cepet beres aku bantuin."


"Nggak kok. Bentaran lagi aja. Kamu tidur aja. Besok kan kerja." Lalu bunda kembali konsentrasi ke mesin jahitnya.

Sebelum menutup pintu kamarnya Karin berbisik, "Bun, jangan capek-capek ya. Karin nanti bakal bikin bunda bangga."

Lalu karin melempar dirinya ke atas kasur, meratakan selimut keatas tubuhnya yang kecil dan berdoa.

"Tuhan, berikanlah Bunda kesehatan dan kekuatan untuk bertahan sampai aku bisa mengumpulkan uang untuk hidup keluargaku.

Tuhan, berikanlah kekuatan dan kesabaran untuk ku menjalani hidup ini.

Tuhan, simpanlah Dodot untukku, jangan palingkan hatinya dariku.

Tuhan, berikanlah Gawa pendamping yang baik sebaik dirinya karena dia sahabat baikku.

Amin. "


¶¶¶¶ 


01.10 Waktu Indonesia berharap.


Gawa terbangun, seolah dia terjatuh dari tempat yang tinggi. Lalu menarik selimut dan kembali tidur.
Sebelum terlelap dia menggumam, "Karin, coba lo gak pernah ketemu Dodot."

***


Sabtu, 28 April 2018

I am me

Dulu, gue pikir, pilihan hidup itu gampang. Seriously, gue gak pernah mikirin hidup itu seserius ini. Bisa dibilang, hidup modal jujur, berbuat baik, dan selalu berdoa, that's it. Gak pernah gue pikir serius, langkah yang gue ambil bakal nentuin pengamalan hidup yang akan gue hadapi. Terbukti dari jurusan kuliah yang gue ambil, gak sedikitpun terbayang gue bakal kuliah di jurusan Bahasa Jerman. Cuy, gue nggak ada basic sama sekali dalam bahasa Jerman. Ini langkah extreme kedua yang gue ambil, sebelumnya di umur 8 tahun gue memilih tinggal bersama kakek nenek di kampung ketimbang hidup sama ayah dan ibu, gue gak ngerti kenapa saat itu gue mau aja ninggalin orangtua gue. Tapi toh itu salah satu jalan hidup yang gue dapatkan. A lot of things happened to my life, everything could be better or worse, who knew ?

Ok, balik lagi. Setelah tau gue masuk jurusan Bahasa Jerman, seharusnya gue stop. I wish, I could turn back time and said to myself, "Hey, mending nunggu setahun lagi untuk dapatkan jurusan apa yang lu pengenin. Jurusan ini nggak akan ngebawa lu ke karir manapun! Trust me. Karena di dalam hati lu, lu gak cinta dan gak akan cinta sama jurusan ini. Pointless !" 

Gue nggak bego, gue smart. Buktinya, jurusan yang pait ini gue laluin. Thank God is always there. Banyak kemudahan yang gue dapatkan selama 4.5 tahun kuliah. Di kuliah, at least, gue dapet gelar sarjana. The only thing i could give for my parents. Oh, maybe they're. Honestly, gue baru kepikiran, di usia gue ini, not many things, ups, nothing i can proud of myself. I've done nothing for my parents. Gue kerja, untuk menghidupi diri gue sendiri, belum ada yang gue bisa kasih ke orangtua gue. Nyesss banget ga sih, sedih. 

Dulu, gue pikir, habis kuliah lulus, gue kerja 1 sampai 2 tahun then got married. It's only dream. Right now I am as single as fuck. HAHAHA, how could I used to think, people my age is adults ?? Gosh ๐Ÿ™… People like me, yang bakal menuju umur 30 tahun dan belum menikah, akan berpikir jauh lebih realistis. Seriously, gue gak akan bisa deket sama orang dengan mudah. Banyak pertimbangan. Pikiran harus sejalan, karena sekarang bukan waktunya untuk coba-coba. Dan hal ini bukan untuk percintaan aja, tapi juga pertemanan. Seiring waktu, teman-teman akan meninggalkan kita. Meninggalkan dalam segi kebersamaan. Dan sesaat lu akan berpikir, didunia ini tinggal lu sendiri. Yeah, I do right now. Luckily, masih ada satu dua orang yang masing inget gue, walaupun gue gak akan bisa menceritakan apapun dan kapanpun seperti dulu. 

Well, telat ngga sih diumur segini gue baru mikirin masa depan ? Apakah ada masa depan yang cerah buat gue ? Asli sih, gue mikir udah jauh ketinggalan sama temen-temen yang lain, adik tingkat gue juga udah lebih sukses dari gue. Kadang ngenes juga ya, why I've to be so late ? Kemana aja gue? ๐Ÿ˜…

Eits, gue bukannya main-main selama ini. Setelah kuliah, gue kerja kok. I earn money, not much, but it is enough. Saving money ? Not so much. Karir ? haha nothing. Terlalu nyaman di zona aman, buat gue gak kritis lagi, nggak maksimal lagi. I have no dream, no passion, no goal. I become so weak, so empty, so judgy. Hampa aja gitu. Do you feel me ?

Honestly with you guys, I've been thinking lately, I am about to take a fresh start. What I mean is, maybe I should move, got new job, new friends and maybe I'll find my right man, my man. Take some class, sukur-sukur bisa lanjut S2, bisa nulis karya sesungguhnya, punya kesempatan naik gunung, jalan-jalan dan ngeblog sesuatu yang bermanfaat buat orang lain, punya bisnis sendiri, etc. Everything that would makes me happy. And my parents proud of.

Post ini bentuk kegelisahan yang sekarang gue alamin. Karena gue nggak punya teman yang pas untuk berbagi, jadi gue tulis dalam bentuk curhatan online gini. Tak apapa kan guys :p

Gue lagi mikirin, apa yang akan gue lakuin setelah gue tinggalin kerjaan yang hampir 5 tahun gue jalanin. Jujur, kerjaan ini adalah sebagian besar hidup gue. Rasa tanggung jawab dan loyalitas gue lumayan tinggi, nggak heran bos naruh kepercayaan yang gede ke gue. Banyak tanggung jawab yang ntarnya gue tinggalin, dan pasti banyak waktu kosong dimana gue merindukan kesibukan gue sekarang. Oh, i hate my job but i am going to miss it. 

Buat gue, ketika gue resign, sebisa mungkin, attitude gue jaga. Masuk pake muka yang baik, keluar juga pake muka yang baik. Mudah-mudahan lancar ya guys. Walaupun udah mulai jengah juga, tapi ini saat-saat terakhir gue mengabdi di perusahan yang udah ngasih semua yang gue punya saat ini. 

Terlalu banyak ilmu yang gue serap, yang gue curi, yang gue ambil selama 4 tahun 11 bulan nanti. Thank you is not enogh. Tapi, kembali lagi, gue pengen berkembang. Ini proses yang gue harus jalani, berproses bekerja di perusahaan ini sudah saatnya diakhiri. Ibaratnya, dulu gue adalah ikan kecil, setiap hari diberikan makanan sampai mangkok tempat gue bertumbuh sudah tidak cukup lagi, saatnya gue pindah ke kolam yang lebih besar dengan tantangan yang berbeda. Banyak pengalaman yang gue dapatakan dan hopefully could helps me out there.

Semoga lancar-lancar semua yaa. ❤๐Ÿ™Œ

See you on the next post.


Love you all

Jumat, 27 April 2018

Yeah, I didn't


Senin, 16 April 2018

Kedua

Ada rasa yang tak mungkin ku bagi padamu,
Rasa yang aku sembunyikan selama 9 tahun ini,
Kadang kabarmu sempat mampir,
Ku tahu kau bahagia.

Tak ku sangka kau masih menyimpanku di dalam hatimu,
Meskipun bukan tempat yang istimewa,
Ada rasa bahagia saat aku tahu,
Kau masih mengingatku.

Suatu saat kau bercerita,
Kau sedang patah hati,
Katamu sakit sekali,
Tapi aku merasa kau tak patut menderita seperti itu.

Saat itu kau hampir menangis,
Cintamu pergi,
Ada rasa bertanya,
Apakah ini saatnya aku bicara.

Tapi ragu dihati mengatakan untuk berhenti,
Berhenti mengharapkan apa yang tidak mungkin terjadi,
Karena janji hati yang tak mungkin diingkari,
Janji bagiku adalah harga diri.

Tahun berganti,
Pasanganmu kini berganti lagi,
Lain wajah lain hati,
Ku lihat kau sedang berseri.

Kau pamerkan dia saat itu,
Dengan bangga kau mengucapkan terima kasih padaku,
Karena aku menguatkanmu,
Dan kau kenalkan dia sebagai jodohmu.

Rasanya bahagia melihatmu bahagia,
Walaupun bukan bersamaku,
Meskipun setelah bersamanya kau tak lagi mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku,
Kau hilang bersama semua kontakmu.

Rasa kehilangan ini,
Rasa iri ini,
Rasa rindu ini,
Rasa sesal ini,
Datang kembali.

Aku tak bisa merelakanmu,
Karena aku tidak pernah memilikimu,
Aku tak berhak bersedih,
Karena aku yang melewatkanmu.

Semoga dia adalah pilihan terbaikmu,
Yang akan menguatkanmu saat kau butuh tempat bercerita,
Yang melihat keberadaanmu saat kau kulewatkan,
Yang mengkhawatirkanmu saat kau tidak berkabar,
Yang selalu nyaman bersamamu.

Jika kau butuh teman berbagi,
Jangan kau hubungi aku lagi,
Karena jika itu terjadi,
Ku berjanji,
Aku tak kan melewatkanmu kembali.