Rabu, 04 April 2018

Lelaki

by : E

Bertahan untuk menyerah

Ketika sudah ada kata ‘terserah’
Tandai itu sebagai alibi menyerah

Ketika jalan mulai tak searah
Ku tahu kata ‘kita’ sudah mulai goyah

Ketika ‘diam’ menuntun pada rasa jengah
Dalam diam berharap untuk berpisah

Ketika rindu berubah menjadi amarah
Menunggu satu momen untuk pecah

Hati berbisik, ‘ayolah, aku sudah lelah’
Tapi rasa ini cepat berubah

Terpaksa ku seret lambat langkah
Pelan-pelan pergi menata hati yang lemah

Sakit Hati

Pernahkah kamu merasa sesak yang tak tertolak
Sesak karena ditolak
Sesak karena terinjak
Sesak yang membuatmu kalah telak

Apinya seolah membakar hati
Menghabiskan sisa kebahagian dan emosi
Memupuk rasa benci
Menjadi yang tersakiti

Bisa saja aku harap kamu mati
Biar saja aku tak peduli
Rasa sakit ini terlanjur aku miliki
Mungkin nanti ku bawa mati

Senin, 02 April 2018

Patah Hati

Banyak yang bilang, kalau patah hati itu rasanya sakit sekali.

Gambaran akan sakitnya sangat banyak. Paling sering kita mendengarnya melalui lirik lagu. Contohnya, lagu patah hati favorit gue itu Terserah dari Gleen Fredly. Selain lagu, ada bentuk lain dari ekspresi patah hati. Bentuk-bentuk itu terjemahan dari betapa ditinggalkan ataupun keputusan memilih meninggalkan, begitu membekas dan meninggalkan luka, juga semangat keputusasaan yang berubah menjadi energi untuk membuat suatu karya. 

Jujur, dulu gue nggak ngerti kenapa patah hati bisa sangat hebat merubah seseorang. Dulu, gue beranggapan, putus cinta, ya sudah cari lagi, jangan menangis dan berduka berlama-lama, cemen. Pada waktu itu, gue masih belum memahami artinya kehilangan, sakitnya tidak dianggap, perihnya tidak diperjuangkan, dan sesaknya rindu tapi tidak dirindukan. Ketika teman-teman curhat bagaimana pedihnya patah hati, gue hanya berusaha berempati dan menemani mereka didalam tangisannya. Diam dan berdoa agar mereka dapat melalui patah hati dengan lega dan jatuh cinta lagi dengan orang yang tepat. Tapi gue nggak tau seberapa dalam lukanya atau seberapa sering dia menangis sendiri didalam kamar mandi menahan sesaknya kesakitan itu. 

Dan pada akhirnya, patah hati buat gue datang juga. Pernah gue nangis sepilu-pilunya. Kalimat,

"Sakit, tapi tidak berdarah"
itu sangat tepat. Perasaan yang bercampur aduk, yang bisa membuat mata menangis meskipun sudah sangat lelah untuk bersedih. Tiba-tiba merasa sendiri dalam suasana apapun. Dan patah hati ini berkali-kali gue rasakan. Naif entah bodohnya, gue patah hati kepada orang yang sama. Orang yang sebenarnya bukan jawaban untuk doa-doa yang tertuju ke langit.

Patah hati juga yang membawa gue mencintai dunia aksara. Dimana setelah menuliskan kesakitan-kesakitan yang menyempitkan hati, disana otak gue berkembang memperluas kata-kata. Mencoba mengolah rasa menjadi kata. Kemudian merangkai kata yang dapat menggambarkan rasa. Dan setelah rasa menjadi karya, disana hati gue lega. 

Dua hal yang bisa melegakan dan menjadi penawar saat hati dilanda gundah dan resah karena tak kunjung bahagia. Yang pertama, menangis sampai tertidur di atas sajadah. Kedua, menulis.

Bila akhirnya gue akan patah hati lagi, gue harap, gue tidak akan terpuruk terlalu lama. Jika bisa, gue pengen tau, kapan gue akan merasakan patah hati itu agar bisa mempertahankan kewarasan gue. 

Diantara tanda-tanda patah hati, terselip doa agar seseorang yang mematahkan hati ini tidak sedang tertawa gembira merayakan kesombongannya bersama hati yang lain. 

Pada akhirnya, semua yang bernyawa akan membuat kita patah hati jika kita memberikan semua hati kita untuknya. Berikanlah hati ini pada penciptanya, atau berikan kesempatan hati ini mencintai dirinya sendiri sebelum mencintai orang lain.


-E

Minggu, 18 Maret 2018

Too Many Questions

😊

What if,

smiling is cover

cover for sadness

cover for pretending

cover for anger

cover for pain


What if,

the happiness is very close but hard to get

then, the time is about to running away

the love you fight for seems gone

the boat you made for escaping is disappearing

and hope is just imagination


What if,

You have wings ?

Are you going to fly?

Or you just look around and enjoy the view from above ?


Too many questions

I cannot answers

Or I don't have the answers

Too many



Sabtu, 17 Maret 2018

My Bad Luck Star




For myself,

I am a fragile little girl in huge world

Problems is still there as long as I live

Cry a lot

Don't forget to smile

If me, have bad day like today

Just write down the story, like I did today

Let myself know, i am not alone

At least, God, this laptop and songs know I am in the trouble

Please don't let myself give up

Just crying, sharing, then releasing that pain

God knows and already set the way out

Just wait

Please, don't die

To my dearest soul, mine is amazing

You're strong and delicate

Sometimes there will be someone

Who will see how valuable I am

And his love never change, ever

- E

Sabtu, 24 Februari 2018

Haru Biru Harapan Seluas Parkiran Universitas

Hari ini, 24 Februari, gue menginjakkan kaki kembali di Malang. Sudah dua kali ke Malang untuk menyaksikan dan menemani adik-adik di hari wisuda mereka. Setiap kali menyaksikan wisuda, perasaan yang timbul sama. 'kapan gue bisa S2?' 

Sudah 5 tahun dari terakhir menempuh pendidikan formal, rasanya rindu sekali suasana akademis dan ngejer-ngejer dosen untuk tanda tangan kertas bimbingan. Ahh.. sesungguhnya hidup bekerja itu lebih berat. Berat karena apa yang dikerjakan tidak dari hati. Belum lagi setiap hari lembur. Bener kata Bang Dika, gue ngerasa kaya ubur ubur lembur, bekerja tanpa passion. To be honest, di kerjaan gue termasuk hardworker, kemana aja gue cuti selalu ngecek email kerjaan dan sempet-sempetin kirim laporan di sela-sela liburan. Kalau sakit juga tetep mikirin kerjaan. Satu hari pas masuk RS karena kecapean, disaat itu baru gue lepas kerjaan sama sekali, walaupun pas temen-temen jenguk ke RS gue kepikiran laporan-laporan kantor. HAHA. Temen-temen kantor juga bisa dibilang percaya dan berpikir gue bisa diandalkan Bukan memuji diri sendiri, tapi menghargai diri sendiri juga penting, bercermin tentang kekurangan dan kelebihan yang kita miliki.

Seiring umur yang gak akan bertambah muda, gue juga galau dengan masa depan gue. Akankah gue terus bekerja di perusahaan dan menjadi karyawan ? Dengan semua kerja keras dan pendidikan yang gue miliki, ketika gue bekerja lembur dan dengan beban kerja berlipat ganda tidak akan ada yang menghargai setidaknya dengan harga yang pas untuk segala perhatian yang gue curahkan untuk perusahaan ini. Akankan gue hanya menjadi seorang karyawan ?

Gue suka banget ceritanya bang Raditya Dika di bagian Ubur-Ubur Lembur. Pas gue baca di kereta, rasanya kok gue banget. Banyak nilai-nilai keresahan hati dan keberanian yang bisa gue ambil dari novel Ubur-Ubur Lembur nya bang Radit. Cerita-ceritanya membekas di hati gue. Awalnya gue bukan pembaca buku bang Radit. Gue baru beli buku bang Radit dari yang judulnya Koala Kumal. Semula gua ngga ngerti buku-bukunya, karena terlalu absurd buat gue. Tapi sekarang, seiring karya-karya bang radit yang semakin dewasa, gue bisa masuk ke dunia bukunya bang Radit.

Kembali ke suasana wisuda. Kalian pernah ngerasain ngga sih setiap datang ke wisudaan, banyak keluarga yang jauh-jauh dateng, bahkan kaya gue nih dari luar kota (Bandung - Malang). Rela duduk 15 jam untuk menghadiri acara wisudaan. Semua ini dilakukan karena perhatian dan sayang kita terhadap orang-orang atau saudara-saudara kita yang sedang merayakan kesuksesannya. Kerja keras mereka dalam menyusun skripsi dan belajar selama 4 sampai 7 tahun berakhir. Gelar yang mereka impikan tercapai. Status sosial mereka meningkat satu level.

Dengan meningkatnya gelar yang didapatkan, semakin tinggi juga ekspektasi orang tua. Di bahu lulusan wisudawan bertambah satu beban lagi. Harapan agar anak-anaknya cepat bekerja di tempat yang bonavit. Harapan anak-anak mereka sukses. Kelak mereka akan menceritakan kepada relasi, saudara, tetangga dan seluruh dunia kalau anak mereka sudah sarjana. Betapa bangganya orang tua. Di setiap sudut kampus akan ada cerita yang bisa gue saksikan. Harapan, kebahagiaan, cita-cita, persahabatan, cinta, kebanggaan dan kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya terpancar dari air mata haru dan senyuman lebar mereka yang sedang mengantre menunggu giliran foto dengan anak mereka yang sedang memakai toga.

Kata-kata mungkin terlalu panjang untuk melukiskan betapa banyaknya cerita yang gue temui hari ini. Sepanjang jalan sampai parkiran universitas gue bisa melihat mimpi-mimpi yang mereka gantungkan di langit. Senyuman dan tangisan perpisahan para sahabat, juga bunga-bunga yang mereka bawa hadiah dari orang-orang terkasih. 



Keluar parkiran universitas, mimpi-mimpi itu seperti luntur tersiram air hujan dan macetnya kendaraan. Semua orang sibuk mencari jalan keluar tercepat, penjual-penjual asongan yang mencari rezeki untuk hidup yang sesungguhnya, tidak lagi dari dompet orang tua. Harapan itu sekarang tidak setinggi langit, tapi setinggi tangan bisa berusaha meraih. Semakin banyak manusia yang terlihat, realitas menjadi tuntutan. Semoga tangan-tangan kita masih bisa meraih mimpi-mimpi itu. Semoga ikrar mahasiswa dan keilmuan serta kebiasaan yang baik selama menjadi mahasiswa dapat menjadi bekal hidup di masyarakat sesungguhnya.

Semoga saya bisa lanjut S2 secepatnya.


See you..

XOXO

Jumat, 02 Februari 2018

Anger

Red moon.
I see you.
Blue moon.
The time I kiss u.
Supermoon.
When we left each other side.
Till we meet again.
My lover, since we are not in this circle
I hope someone will not treat you right like I do.
I hope your dream never come true like mine
I hope this is all your false
Cause cold blood you make me
Its really hard to see you smile
The shape I've been though
You didnt realize
I know, you are right
But I am pretty sure not wrong
I would punch you in the face
Slap you
Kick your ass
And throw you away
But its not allowed in the game
- E

Sabtu, 27 Januari 2018

27

Umur 27

Sebagian orang sudah memiliki keluarga kecilnya
Sudah memiliki tanggung jawab berkeluarga
Bahkan ada yang sudah melepaskannya

Sebagian bahagia atas statusnya
Sebagian lagi mungkin masih memilih apa prioritas hidupnya
Karir atau keluarga
Beberapa malah tidak memiliki kesempatan untuk berkarir
Dan beberapa sibuk berkarir sampai lupa berkeluarga

Sebagian lagi malas memikirkannya
Ada juga yang memang tidak punya seseorang untuk menjadi teman hidupnya
Ibarat kata, perahu belum menemukan pelabuhannya

Ragu-ragu, dalam memilih karena takut salah
Tidak menerima kekurangan masing-masingnya
Banyak harapan yang tak akan terwujud bersamanya

Ada yang terhalang restu orang tua, agama dan biaya

Macam-macam cerita

Orang bilang akan indah pada waktunya
Positif saja, kemungkinan alasan baik menguatkan hati

Risau dan resahnya hanya bisa ditelan sendiri
Pahit manisnya tercampur aduk

Barisan doa selalu terselip
Tapi hati kadang berkelit
Apakah diri bisa menjalani hidup yang sulit
Karena menikah bukan permainan
Bukan juga cepat-cepatan
Menikah waktunya di tangan Tuhan

Hati teriris saat sendiri
Tapi bersyukur hidup mandiri
Kadang melihat masalah teman sendiri ngeri
Akankah diri bisa bertahan dengan waktu yang sepi

Yang sekarang ada di jalani
Yang tak sejalan coba di pahami
Mungkin memang salah sendiri
Tuhan bilang bukan saatnya tapi manusia kadang memaksa diri

Tak ada maksud hati merendahkan yang masih sendiri
Tapi kadang merasa sepi saat yang lain satu per satu pergi tanpa kembali
Berkirim kabar pun satu minggu sekali
Itu pun jika pesannya ditanggapi

Sahabat dan saudaraku
Bergembiralah
Baik yg menikah
Ataupun masih menunggu "hadiah"
Biarkan saja hati ini merindu
Biarkan saja

Karena, "dia" pun sedang merindu
Mengirimkan doanya untuk bertemu denganmu

Kamis, 11 Januari 2018

Sejatinya

ketika mengejar akhirat
dunia itu seakan semakin menjerat
semakin kuat

terasa sulit sekali berbuat benar
karena ketika kebenaran menjadi sesuatu yg sulit diterima akal
ketika orang pintar memilih mencari pembenaran
bukan kebenaran

hingga kebenaran menjadi pahit
kebahagiaan seperti euforia kebebasan
dan agama menjadi batasan pemikiran sebagian orang
padahal agama adalah tuntunan cara pandang
agar kecerdasan tidak kebablasan

orang baik bertebaran
tapi orang ikhlas, seperti menanam padi di laut
terheran memahami pola pikir yang asing
sungguh cerdas bebas dan luas
ibarat kapas tertiup angin
sesuka dia terbang dan melayang tanpa arti
tak sadar dia dan pemikirannya akan mati

tuhan tak perlu pembelaan
manusia yang butuh kebenaran
tuhan tak perlu pujian
manusia yang haus pertolongan
tuhan tak perlu tangisan
manusia sujud mengemis ampunan

dunia,

hanya 10 detik saja

-E